Dengan nama Allah Pengasih dan Penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Dengan puji yang sebanding dengan nikmat-Nya dan menjamin tambahannya. Ya Allah Tuhan Kami, bagi-Mu
1975LARUTMALAM, HAMBURG MUSIM PANAS. Laut tidur. Langit basah. Seakan dalam kolam awan berenang. Pada siapakah menyanyi gerimis malam ini. Dan angin masih saja berembus, walau sendiri. Dan kita hampir jauh berjalan: Kita tak tahu ke mana pulang malam ini. Atau barangkali hanya dua pasang sepatu kita.
Sayatidak pernah benar. Doa saya tidak pernah dikabulkan. God View lahir dari self view, yaitu kejadian yang kita alami. Keduanya berjalan serentak. Begitu event datang, maka seketika God View dan self view akan muncul sekalian. Jika sudah mengenal bahasa diri dan bahasa Tuhan, maka diri tidak akan reaktif lagi menyikapi event.
DoaPengasih Soalan: Saya berharap panel feqh yang budiman dapat memaparkan doa yang diajar baginda RasuluLlah kepada Abu Hurairah r.a agar manusia mengasihinya. JKK. Kisah ini berlaku selepas ibunya masuk Islam dengan doa daripada Rasulullah SAW. Abu Hurairah melaporkan:
DoaPenyeri Pemanis Wajah Pengasih Doa Kata Kata Indah Kutipan Pelajaran Hidup . Inilah 3 Waktu Utama Membaca Ayat Kursi Ruginya Insan Yang Tak Mengamalnya Islam Itu Indah Tazkirah Daily Membaca Ayat Islam . Doa Pemikat Wanita Surat At Taubah Ayat 128 129 Paling Ampuh Dan Mustajab Youtube Kekuatan Doa Doa Kutipan Agama . Pin Di Kutipan Hidup
kiTampar petir Saya Ijasahkan Ilmu MACAM - MACAM ASMA 1. ASMA DORBIL Asma Dorbil ini memiliki kegunaannya yang sangat langka, yakni agar pemiliknya tahan terhadap pukulan lawan.
Artinya "Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Untuk yang terhormat Nabi Muhammad SAW, segenap keluarga, dan para sahabatnya. Bacaan Al-Fatihah ini kami tujukan kepada Allah dan pahalanya untuk mereka semua. Al-Fatihah" 2. Al-Fatihah. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.
Bacajuga: Bacaan Lengkap Surat Al Kahfi Bahasa Arab, Latin, Terjemahan, Ini Keutamaan Membacanya di Hari Jumat. Berikut doa setelah salat lima waktu, bacaan latin, arab dan artinya yang dikutip dari Buku Panduan Risalah Tuntunan Shalat Lengkap Kementrian Agama: Doa dan Dzikir Setelah Sholat Fardhu (Risalah Tuntunan Shalat Lengkap (Kemenag))
Artikata doa pengasih dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah jampi-jampi atau guna-guna yg menyebabkan orang jatuh cinta. Makna yang akurat dari sebuah kata terkadang hisa berbeda dengan penggunaanya di masyarakat. Maka dari itu peningkatan literasi dan kemudahan akses Kamus Bahasa Indonesia harus terus kita tingkatkan.
9Hadits Terbaik Pilihan • Nasehat Islam Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Pada hari jum'at para malaikat berdiri di pint
IWm19F7. Kebanyakan doa agar dijodohkan dengan orang yang dicintai dibacakan doa seperti membaca doa bercermin, doa memikat dan doa -Bagi yang belum mendapatkan jodoh di usia sudah mapan maka berusaha dengan saah satunya memohon kepada Allah SWt. Adakah doa agar dijodohkan dengan orang yang dicintai dan terbaik? Pada dasarnya setiap mukmin berhak memohon apa yang diinginkan. Termasuk dalam urusan jodoh, seperti berharap agar dijodohkan dengan orang yang dicintai. Kebanyakan doa agar dijodohkan dengan orang yang dicintai dibacakan doa seperti membaca doa bercermin, doa memikat dan doa pengasih agar dicintai. Baca juga Usai Sholat Dhuha, Bacalah Surat Al Waqiah, Pahalanya Dibuka Pintu Rezeki Akan Terbuka Lebar Baca juga Lionel Messi Sumbang Tiga Assist Jadi Gol, Balikkan Keunggulan Saint-Etienne Menjadi 3-1 Baca juga Sosok Lesti Kejora di Mata Suami, Rizky Billar Sebut sang Istri sebagai Pelengkap dalam Kehidupannya Berikut bacaan doanya الَّلهُمَّ جَئَلْنِى نُوْرُ يُوْسُفَ عَلَى وَجْهِي فَمَنْ رَ اَنِى يُحِبُّنِي مَحَبَّتَنْي “Allaahumma alnii nuuru yusufa ala wajhii fa man ro aanii yuhibbunii mahabbatan.” Artinya “Ya Allah, jadikanlah Nur cahaya Nabi Yusuf pada wajahku, dan bagi siapa yang melihat akan menjadi kagum serta memiliki cinta kasih kepadaku.” Sebagai ikhtiar, doa agar dijodohkan dengan orang yang dicintai sama seperti doa memikat atau menarik hati seseorang itu diperbolehkan. Sejauh hal itu sesuai syariat agama Islam yang telah diajarkan. Sebagai ikhtiar memanjatkan doa agar segera mendapatkan jodoh diperbolehkan. Namun, perlu diingat lagi doa tersebut diniatkan karena semata mencari ridha Allah SWT.
Oleh Ramlan BAHASA Aceh merupakan bahasa daerah terbesar dan yang paling banyak penuturnya yang tersebar di wilayah pantai Timur dan Barat provinsi Aceh. Penutur asli bahasa Aceh adalah mereka yang mendiami Kabupaten Aceh Besar, Banda Aceh, Pidie, Aceh Jeumpa, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Barat dan pulau Sabang. Penutur bahasa Aceh juga terdapat di beberapa wilayah dalam seperti Aceh Selatan, terutama di wilayah Kuala Batee, Blangpidie, Manggeng, Sawang, Tangan-tangan, Meukek, Trumon dan Bakongan juga di Aceh Tengah, Aceh Tenggara dan Simeulue. Selain itu, di luar provinsi Aceh, penutur bahasa Aceh tersebar di daerah-daerah perantauan, seperti Medan, Jakarta, Kedah dan Kuala Lumpur di Malaysia, serta Sydney di Australia Daud, 199730. Mereka membentuk kelompok masyarakat Aceh, seperti Aceh Sepakat, Ikatan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Tanah Rencong, dan beberapa kelompok lainnya membentuk komunitas keacehan dalam mempertahankan bahasa Aceh. Bahasa selain alat komunikasi genetik yang hanya ada pada manusia, juga bahasa adalah produk budaya. Bahasa dan budaya adalah dua bentuk hasil pemikiran manusia. Keterkaitan antara bahasa dan budaya, digambarkan oleh Willem von Humboldt seorang filosof Jerman. Menurutnya, language by its very nature represents the spirit and national character of a people bahasa dengan sendirinya sebagai repesentasi/perwujudan semangat alami dan karakter nasional masyarakat Steinberg dkk, 2001 244. Humboldt yakin setiap bahasa di dunia pasti merupakan perwujudan budaya dari masyarakat penuturnya. Jadi, pandangan yang dimiliki oleh suatu masyarakat bahasa tertentu akan tercermin atau terwujud dalam bahasanya. Apa yang dikatakan Humboldt didukung oleh pakar linguistics dunia seperti Edward Sapir 1929 dan Alfred Korzybski 1933. Terkait dengan teori tersebut bahasa selain wadah dan refleksi kebudayaan masyarakat pemiliknya, bahasa adan budaya bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, tanpa bahasa atau salah satunya masyarakat atau bahasa tidak bisa terbentuk dan tidak akan ada komunitas yang bernama Aceh. Sering dipertanyakanMenyoal Aceh tidak punya “terima kasih” sering dipertanyakan oleh masyarakat yang bukan penutur asli Aceh. Jika bahasa adalah refleksi kebudayaan masyarakat pemiliknya. Maka bahasa Aceh dibentuk oleh masyarakat pemilik budaya tersebut, yaitu Aceh. Dan, bahasa tersebut sesuai dengan karakter budayanya. Suatu budaya pasti memiliki karakter dalam menghargai orang lain atas bantuan atau benda yang diberikan wajib kita katakan terima kasih. Sebagai contoh dalam bahasa Inggris, ucapan terima kasih, bukan hanya kata thank you saja, tapi juga ada banyak kata terima kasih seperti much obliged, cheers, thanks a lot, thanks very much, thanks a bunch, dan banyak lagi kata ucapan terima kasih yang semisal yang dipakai dalam bahasa inggris namun harus sesuai dengan konteknya apakah itu digunakan dalam situasi formal atau informal. Kata thanks a bunch bisanya diucapkan untuk teman akrab, atau dengan kata lain kata tersebut digunakan saat situasi non formal. Menggunakan kata thanks a bunch harus dilihat konteknya, karena dalam penggunaannya dapat menyindir orang lain, yang tidak membantu. Sebagai contoh, thanks a bunch for mess up my kitchen! Kalimat tersebut berarti “terima kasih sudah mengotori saya”. Sehingga, lebih tepatnya kata-kata tersebut bermaksud menyindir yang digunakan untuk teman akrab. Oleh karena itu, jika masyarakat budaya lain memiliki banyak leksikal kata terima kasih, lalu bagaimana bentuk leksikal ucapan terima kasih dalam bahasa Aceh? Apakah ada banyak bentuk ucapan terima kasih dalam bahasa Aceh? Ini tentu harus mampu diperjelas oleh penutur maupun pakar bahasa di Aceh. Jika tidak, maka ini akan menjadi ganjalan dalam pergaulan dengan masyarakat di luar penutur Aceh. Karena bisa jadi bagi orang yang tidak memahami sejarah dan tamaddun Aceh, mereka akan beranggapan bahwa masyarakat Aceh adalah masyarakat yang tidak tahu berterima kasih. Dalam sebuah seminar yang berlangsung di Domus Academica Auditorium, Universtas Oslo dan Norwegian Center for Human Rights NCHR, dengan tema The Development of Aceh A Cultural Perspective, Norwegia pada 18 Nopember 2005. Dr Bukhari Daud mengatakan, memang kata “terima kasih” tidak dikenal dalam kebudayaan Aceh. Apabila orang Aceh mendapat pertolongan atau menerima hadiah, mereka akan mengucapkan “Alhamdulillah”. Bagi orang Aceh, rasa terima kasih atas pemberian atau bantuan orang lain tidak diungkapkan melalui kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata. Artinya, jika seseorang berbuat baik kepada orang Aceh, maka orang Aceh akan membalasnya dengan lebih baik lagi. Memang apa yang diungkapkan oleh Bukhari tehadap makna leksikal kata “Alhamdulillah” tersebut bagi masyarakat Aceh adalah mengekspresikan ungkapan “terima kasih” yang sedalam-dalamnya. Tidak hanya itu, namun juga setelah mengucapkan alhamdullilah diiringi dengan doa kepada orang yang memberi bantuan atau pertolongan dengan menambahkan kata-kata seperti; Seumoga gata uroe geubalah le Allah, atau seumoga gata geu tulong le Allah. Hal ini karena memang dalam kehidupan sosial orang Aceh telah melekat ajaran Islam dan menyatu dalam budayanya ini sesuai dengan hadih maja, hukôm ngon adat lagèe zat ngon sifeut. Teurimong geunaseh’Melihat fenomena tersebut, sebenarnya ada banyak frasa atau leksikal kata terima kasih dalam bahasa Aceh, seperti kata teurimong geunaseh, teurimong gaseh, makaseh beh, kajeut beh, dan banyak lagi kata-kata yang semisal yang digunakan masyarakat Aceh dalam mengungkapkan kata terima kasih. Selain kata tersebut ada juga kata lainnya, seperti neupeuidin beh? Kata ini terdapat dalam Kamus Bahasa Aceh yang diartikan sebagai ucapan “terima kasih”. Terjemahan ini diartikan secara pragmatik, yaitu suatu teknik yang menggunakan penekanan pada ketepatan pengalihan pesan dalam bahasa sasaran, aspek bahasa, dan estetika kurang diperhatikan. Jika kata tersebut diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan padanan lazimnya berarti “izinkan”. Dengan demikian, terdapat banyak kata terima kasih yang bisa diungkapkan dalam bahasa Aceh, namun yang harus menjadi perhatian saat situasi kapan dan bagaimana ucapan itu diucapkan. Sebagai contoh, ketika ingin mengatakan “terima kasih” kepada tamu undangan yang telah menyempatkan diri memenuhi undangan pada suatu acara. Sebagai contoh leksikal, kata “terima kasih” ganti dengan kata “Alhamdulillah”, maka leksikal tersebut tidak sesuai dengan penempatankatanya. Untuk itu harus dicari kata yang sepadan, seperti teurimong gaseh agar sesuai dengan konteknya. Dengan demikian, ungkapan Alhamdulillah bisa digunakan dalam kontek lain, seperti seseorang memberikan bantuan sosial atau sedekah, maka kata alhamdullah lebih tepat diucapkan oleh sipenerima bantuan tersebut. Ini bukan membantah bahwa kata Alhamdulillah bukan kata terima kasih, karena ada banyak leksikal kata terima kasih yang digunakan oleh ureung Aceh. Oleh karena itu, dengan banyaknya ungkapan frasa terima kasih dalam bahasa Aceh, maka ungkapan frasa “terima kasih” harus ditata dan distandardkan kembali sesuai dengan kamus. Tidak hanya itu, perlu juga diperhatikan standard ejaan, mengingat Aceh memiliki beragam dialek. Ini menjadi tugas penting Pemerintah Aceh, karena bahasa adalah refleksi kebudayaan masyarakat penuturnya. Dan, bahasa menentukan karakter budaya tersebut bagaimana suatu buadaya menghargai orang lain dengan ungkapan “terima kasih”, karena orang tersebut akan merespons dan menilai. Sehingga penutur luar Aceh tidak lagi menuduh bahwa Aceh tidak punya atau tidak tahu berterima kasih. Nah! * Ramlan, Dosen Linguistics Universitas Jabal Ghafur Unigha Glee Gapui-Pidie, dan Dosen Bahasa Inggris Universitas Islam Negeri UIN Sumatera Utara, Medan. E-mail
- Perang antara rakyat Aceh melawan Belanda yang terjadi sepanjang 1873-1912 menyisakan banyak cerita sejarah. Salah satunya, perlawanan yang dilakukan perempuan. Era itu memunculkan para pejuang perempuan tangguh, seperti Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Pocut Meuligo, Pocut Baren Biheue, Tengku Fakinah, dan Inen Mayak Teri. Menurut Rosnida Sari dalam Acehnese Women A History of Acehnese Women Leaders 2016, mereka adalah simbol kekuatan perempuan yang tumbuh dari kearifan lokal berbasis Islam. Kearifan itu juga menguat dalam pendidikan karakter yang tergambar pada lirik-lirik do da idi. Dalam kebudayaan masyarakat Aceh, do da idi adalah syair pengantar tidur bagi anak-anak—atau peuayon aneuk dalam bahasa Aceh. Reni Nuryanti dan Bachtiar Akob dalam Perlawanan dari Ayunan 2020 menyebut, do da idi adalah alat pewarisan semangat jihad. Lain itu, Do da idi juga menjadi terapi psikologis untuk menurunkan ketakutan dan ketegangan dalam situasi perang. Lirik-lirik do da idi mengandung nilai jihad yang dimaksudkan sebagai perlawanan terhadap penjajah Belanda. Yusri Yusuf dan Nova Nurmayani dalam Syair Do Da Idi dan Pendidikan Karakter Keacehan 2013 menyebut, bagi masyarakat Aceh, ia merupakan senjata kultural dalam perlawanan terhadap orang kafir kaphe. Kemunculan do da idi tidak bisa dilepaskan dari sejarah Perang Aceh dan naskah Hikayat Prang Sabi yang menjadi inspirasinya. Anzib dalam Hikayat Prang Sabi Mendjiwai Perang Atjeh Melawan Belanda 1971 menegaskan bahwa sebagai karya sastra, Hikayat Prang Sabi punya posisi penting karena dua aspek. Ia memenuhi syarat keindahan bahasa sebagai karya sastra dan memiliki muatan pendidikan Hikayat Prang Sabi Semangat jihad fi sabilillah pertama kali menggema pascakekalahan laskar Aceh dari serdadu Belanda. Pada 24 Januari 1873, panglima militer Belanda Letnan Jenderal Jan van Swieten berhasil menduduki istana Kesultanan Aceh. Setahun kemudian pada 16 Maret 1874, Banda Aceh berubah nama menjadi Kutaradja. Dalam kondisi Aceh yang terpuruk itulah kemudian muncul kesadaran untuk bersatu di antara kalangan ulama, ulee balang, dan rakyat. Di bawah pimpinan Imeum Lungbata selaku ulama dan Teuku Lamnga—suami pertama Cut Nyak Dhien—selaku ulee balang, tercetuslah sumpah “wajib perang sabil”. Sumpah yang diucapkan di Aceh Besar itu lantas mendulang simpati para ulama dari wilayah lain. Lalu, muncullah Teungku Tjhik di Tiro yang didapuk masyarakat Aceh sebagai pemimpin perang sabil. Tak sendiri, Teungku Tjhik di Tiro juga disokong oleh adiknya, Teungku Tjhik Pante Kulu. Menurut Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Imran Teuku Abdullah, Teungku Tjhik di Tiro kemudian meminta adiknya itu menggubah naskah syair yang nantinya dinamai Hikayat Prang Sabi. Jadi, Hikayat Prang Sabi sejatinya adalah karya sastra perlawanan. Para pakar sejarah dan budaya Aceh, seperti Anzib, Ali Hasjimy, dan Anthony Reid, kemudian mengakui Teungku Tjhik Pante Kulu sebagai pengarangnya yang sah. Sebagai karya sastra perlawanan, syair-syair Hikayat Prang Sabi amat kental dimuati nilai-nilai patriotisme, cinta tanah air, dan secara khusus mengajarkan tentang jihad melawan orang kafir untuk membela Islam. Orang kafir dalam konteks ini ditujukan pada penjajah Belanda. Sebagai misal, simaklah penggalan Hikayat Prang Sabi berikut ini. Diteungku pih neumoe sangat Menangislah Teungku tambah sedu Sajangneuh that h’ana sakri Sayangkan anak akan pergi Djak hee aneuk beuseulamat Berangkatlah sayang buah hatiku Keuloon taingat djeub-djeub hari Jangan lupakan gurumu ini Samlakoe tjut that guransang Muda belia sangatlah garang Kafee neutjang dum meugulee Kafir dicincang tikam berganda Djipagap lee kafee suwang Akhirnya terkepung muda pahlawan Muda seudang h’ana lheueh lee Jalan lepas sudah tiada Sikureueng droe kafee neutjang Sembilan kafir mati ditikam Muda sedang tak lihee Muda pahlawan berjuang berani Siplooh droe kafee njawong hilang Setelah sepuluh musuh dicincang Muda seudangreubah meugulee Muda belia syahid menemui Ilahi Hikayat Prang Sabi bukan hanya membentuk mental perlawanan terhadap Belanda, tapi juga mewujud menjadi strategi politik. Menurut Imran Teuku Abdullah, banyak pejuang Aceh yang maju ke medan perang dengan membawa potongan lirik Hikayat Prang Sabi. Potongan-potongan lirik itu kerap ditemukan pada jenazah mereka yang gugur. Menurut Ibrahim Alfian dalam Perang di Jalan Allah Perang Aceh 1873-1912 1987, lirik-lirik Hikayat Prang Sabi memang dianggap punya kekuatan spiritual dan kerap dijadikan azimat. Pasalnya, hikayat itu juga memuat ayat-ayat Alquran dan hadis Rasulullah yang ditulis oleh ulama dan dipandang sebagai sumber karamah. Kuatnya pengaruh Hikayat Prang Sabi mewujud pula dalam lirik do da idi yang biasa dilagukan para ibu pada saat menidurkan anaknya. Ada kemiripan di antara keduanya, terutama dalam aspek tema yang mencakup soal ketuhanan, jihad, juga harapan agar anak muda menjadi pejuang dan pembela Aceh nanggro. Menyanyikan do da idi dengan demikian sekaligus menjadi bentuk resiliensi dan “resistensi dari dalam” yang dilakukan perempuan Aceh. Perlawanan dari Buaian Do da idi adalah bentuk “resistensi sejak bayi” dan berfungsi sebagai penyampai pesan “wajib sabil” yang diperintahkan ulama. Perempuan Aceh ikut ambil bagian dalam proses pewarisan perlawanan rakyat Aceh kepada generasi penerus. Ruth Finnegan dalam Oral Traditions and the Verbal Arts A Guide to Research Practices 2005 menegaskan bahwa secara historis, perempuan Aceh amat mahir menyenandungkan sastra lisan. Mereka mampu memanfaatkan irama, rima, ragam bunyi, ungkapan, bahasa, simbol, dan tema yang terdapat dalam karya sastra lisan. Pada masa Perang Aceh di paruh akhir abad ke-19, ayunan bagi masyarakat Aceh bukan sekedar sarana menidurkan bayi. Di situlah para perempuan menyenandungkan do da idi. Jadi, sambil mengayun anak, para ibu sekaligus juga mengajarkan anak-anaknya tentang keberanian melawan Belanda. Mereka yang tidak ikut maju ke medan perang, pada akhirnya mewariskan harapan kepada anak-anaknya. Dari sinilah, benih perlawanan terhadap Belanda bersemi. Contoh dari narasi perlawanan itu seperti tergambar dalam lirik do da idi berikut ini. Allah hai do doda idang Seulayang blang ka putoh taloe Layang-layang di sawah putus tali Beurijang rayeuk hai muda seudang Cepatlah besar hai anak muda Tajak bantu prang bila nanggroe Ikut bantu berperang membela negeri Wahee aneuk bek taduek le Wahai anakku janganlah duduk kembali Beudoh sare bela bangsa Bangun berdiri bersama membela bangsa Bek tatakot keu darah ile Jangan takut meski darah harus mengalir Adak pih mate poma ka rela Sekira engkau mati, ibu merelakan Allah hai Po ilahonhaq Allah sang pencipta punya kehendak Gampong jarak han troh tawoe Kampung jauh, kita tak bisa pulang Adakan bulee ulon teureubang Seandainya punya sayap, aku akan terbang Mangat reujang troh u nanggro Supaya lekas sampai ke negeri Aceh Infografik Mewariskan Semangat Jihad Melalui Do Da Idi. Terapi Psikologis Selain sebagai sarana pewarisan semangat jihad, do da idi juga menjadi pereduksi ketegangan, kekhawatiran, ketakutan, atau bahkan kemarahan yang dirasakan oleh seorang perempuan. Pasalnya, syair do da idi juga memuat pujian, doa, dan selawat. Itu semua adalah “cara tradisional” masyarakat Aceh untuk memunculkan ketenangan. Sebagai misal, simaklah lirik do da idi berikut yang dikutip dari Syair Dodaidi dan Pendidikan Karakter Keacehan 2013 susunan Yusri Yusuf dan Nova Nurmayani. Laailaahaillallaah Kalimah thaibah keupayong page Kalimah thaibah payung akhirat Uroe tutong batee beukah Panasnya matahari sampai batu terbelah Hanco darah lam jantong hate Hancur darah dalam jantung hati Laailaahaillallaah Kalimah thaibah beukai tamate Kalimah thaibah bekal kita mati Taduk tadong zikir keu Allah Duduk dan berdiri zikir kepada Allah Han ek ngon babah ingat lam hate Tak sanggup dengan mulut, ingat dalam hati Lirik tersebut menggambarkan situasi psikologis, sosial, dan kultural masyarakat Aceh di masa perang. Ia lazim disenandungkan oleh mereka yang kebetulan tidak ikut berperang karena harus membesarkan anak. Meski jauh dari pertumpahan darah, kondisi lingkungan tidak serta-merta memberikan ketenangan batin. Karena itulah, perempuan Aceh melagukan lirik-lirik do da idi yang menggambarkan kegelisahan, ketegangan, ketakutan, bahkan kemarahan terhadap situasi. Mereka akhirnya mewakilkan perasaan dan pikirannya pada do da idi. Dengan demikian, do da idi tak hanya berisi kepasrahan perempuan, tapi juga harapan kepada pertolongan Allah. Itulah alasan lirik do da idi tersebut diawali dengan kalimat Laailaahaillallaah—kesaksian bahwa tidak ada tempat berlindung, kecuali Allah. Sebagaimana tersebut dalam Hikayat Prang Sabi, lirik do da idi juga menyuratkan bahwa keyakinan pada akhirat menjadi akhir perlawanan terhadap Belanda. Energi jihad menginspirasi untuk tetap mengangkat senjata. Ia menjadi simbol perjuangan mulia di mata Islam. Sebab dalam pandangan masyarakat Aceh, perang melawan Belanda adalah perang menegakkan agama Islam. Heroisme jihad seperti itulah yang dilantunkan para ibu kepada anaknya dalam buaian. Meski sedang meniti maut, perempuan Aceh yakin bahwa jihad akan berakhir syahid. Sebab itulah, Zentgraaf dalam Aceh 1983 menulis, “Tidak ada satu bangsa yang begitu bersemangat dan fanatik dalam menghadapi musuh selain bangsa Aceh dengan wanita-wanitanya yang jauh lebih unggul daripada semua bangsa lain dalam keberanian menghadapi maut.” - Humaniora Penulis Reni NuryantiEditor Fadrik Aziz Firdausi