Ayat11 : "Orang yang kena kepada mayat, ia najis tujuh hari lamanya." Tidak hanya dalam hal pengetahuan alam saja Alkitab dikatakan akurat. Dalam bidang kesehatan, Alkitab justru lebih akurat. Perhatikan ayat ini. Pada akhir abad yang ke 19, para dokter seringkali menyentuh mayat kemudian menangani pasien yang masih hidup tanpa cuci tangan. Komentaryang sangat panjang (sekitar 850an kata) itu bertabur ayat-ayat Alkitab yang mengupas tuntas tentang homoseksual. Dia pasti sudah tahu bahwa saya beragama Kristen sehingga dengan begitu antusias memaparkan banyak ayat-ayat Alkitab untuk mendukung ketidaksetujuannya terhadap homoseksual. SurahAl-A'raf Ayat 80 LGBT yang kini kian mempublikasikan komunitasnya terlebih di media sosial menjadi sebuah problema yang ditanggapi dengan berbagai persepsi oleh masyarakat. Ada kelompok yang mendukung, tetapi ada pula kelompok yang menolak dengan tegas keberadaan komunitas tersebut. Agarkita menghidupi kehidupan yang suci dan saleh (ayat 11) DI USA PERNIKAHAN HOMOSEKSUAL telah bergelora. namun Gereja-gereja di USA malah mendukung standard moral yang rendah sekali. Penentangan terhadap LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) dianggap diskriminasi. Pornografimerupakan hal yang masih hangat dibicarakan oleh orang-orang zaman kini. Dalam buku Etika Kristen Seksuil, Verkuyl menyatakan: "Pornografi terdapat dalam bermacam-macam bidang dan cara: dalam film-film tertentu, dalam koran-koran dan majalah-majalah, dalam gambar-gambar, foto-foto dan lain-lain. Di negeri-negeri tertentu terdapat Yangdirevisi itu terjemahannya kok. dulu ada versi King James. Karena bahasa Inggris berkembang dan banyak vocab yang ketinggalan jaman, dibuatlah New King James Version. Lagipula Paus mendukung LGBT supaya memiliki hak yang sama sebagai manusia. Bukan 'mendukung' dalam artian tidak lagi dipandang sebagai dosa di gereja Katolik Roma. KomunitasLGBT menerapkan isogesis, bukan exegesis alkitabiah yang tepat. Konteks Ayat-ayat Terkait. Kedua, konteks menentukan makna istilah dalam Alkitab. Walaupun kata Ibrani dabaq digunakan dalam kedua ayat tersebut, konteksnya berbeda. Kejadian 2:24 berbicara tentang perjanjian pernikahan pertama. Rut 1:14 berbicara tentang perjanjian keluarga. Ayatalkitab tentang motivasi hati yang gembira adalah obat yang manjur tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang. Amsal 1722 apapun juga yang kamu perbuat perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk tuhan dan bukan untuk manusia. Berikut adalah 10 ayat alkitab yang dapat menjadi panduan melihat atau mencapai kesuksesan di dalam hidup ini. beragam Alkitab ayat dalam doa cantik untuk dipilih pelanggan. Beli Alkitab ayat dalam doa indah ini dengan harga menarik dan penawaran yang ditawarkan di situs. MelakukanLGBT sama dengan melupakan pencipta kita dan bahkan karena itu Tuhan menyerahkan manusia kepada hawa nafsu dan semakin sesat. 8# Ibrani 13:4 Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah. RmTwaHZ. Artikel ini membahas tentang ayat-ayat Alkitab yang menentang homoseks, baik di Perjanjian Lama maupun di Perjanjian Baru. Ada banyak ayat Alkitab yang menentang homoseks. Isu LGBT Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender bukan lagi hal yang asing bagi kita saat ini. Isu ini bukan hanya ada di luar negeri, di Indonesia pun sudah ramai dibicarakan serta menimbulkan pro-kontra di masyarakat. Hal ini terutama setelah kaum homoseksual mulai berani menunjukkan jati diri mereka serta menuntut hak-hak mereka dihormati. Baca juga 10 Fakta Tentang Poligami Menurut Alkitab Di kalangan gereja sendiri isu homoseks masih menjadi tantangan tersendiri. Pada umumnya gereja menolak keberadaan homoseks, namun sebagian gereja justru menerimanya dengan alasan Hak Azasi Manusia. Juga, karena mereka merasa Alkitab tidak menolak keberadaan kaum homoseks. Bagaimanakah sebenarnya pandangan Alkitab terhadap homoseks ini? Bagaimana seharusnya pandangan Gereja terhadap homoseks? Atau bagaimana homoseks menurut pandangan Kristen seharusnya? Apakah ayat-ayat Alkitab menentang LGBT? Baca juga 7 Dosa Perzinahan Terbesar Di Alkitab Jika kita teliti, maka jelas kita akan menyimpulkan bahwa Alkitab secara tegas menolak LGBT. Jika kita perhatikan, ada sekitar dua puluh bagian atau ayat-ayat Alkitab yang menentang LGBT, khususnya yang berkaitan dengan homoseksual/gay cinta sesama laki-laki dan lesbian cinta sesama perempuan. Baca juga 25 Tokoh Alkitab Yang Berpoligami Kedua puluh ayat-ayat Alkitab yang menentang homoseks tersebut terdapat baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Dalam artikel kali ini akan dibahas sepuluh di antaranya, yakni ayat-ayat Alkitab yang lebih tegas dalam menentang homoseks. Berikut kesepuluh ayat-ayat Alkitab yang menentang LGBT/homoseks tersebut. 1. Rancangan Tuhan Dalam Penciptaan Manusia Ayat Alkitab pertama yang menentang homoseks adalah Kejadian 127-28. Ayat-ayat ini memang tidak secara tegas menolak LGBT, bahkan masalah LGBT sedikit pun tidak disinggungnya. Namun demikian, makna ayat-ayat ini menyimpulkan demikian. Dalam ayat-ayat ini dengan jelas disebutkan bahwa Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan, dan bahwa mereka diberkatiNya serta diperintahkanNya untuk beranak cucu dan bertambah banyak. Jadi Tuhan hanya memberkati laki-laki dengan perempuan, bukan memberkati laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan. Dalam Kejadian 218 juga dengan jelas disebutkan bahwa Tuhan menciptakan pasangan yang sepadan dengan Adam. Dan yang diciptakanNya bagi Adam adalah Hawa, seorang perempuan. Hal ini berarti bahwa sesuai rencana Tuhan, pasangan yang sepadan bagi seorang laki-laki adalah perempuan, bukan laki-laki. Dan pasangan yang sepadan bagi seorang perempuan adalah laki-laki, bukan perempuan. 2. Kisah Pemusnahan Sodom Dan Gomora Ayat Alkitab kedua yang menentang homoseks adalah kisah Sodom dan Gomora. Sodom dan Gomora adalah dua kota yang terkenal karena dosa mereka yang besar di hadapan Tuhan. Karena itulah Tuhan bermaksud untuk memusnahkan kedua kota tersebut. Abraham bersyafaat bagi kota ini agar Tuhan tidak memusnahkannya, apalagi Lot, saudara Abraham, tinggal di kota Sodom. Tuhan berjanji tidak akan memusnahkan kota Sodom jika di kota itu didapatiNya 10 orang saja orang benar. Tetapi di kota itu ternyata tidak ada 10 orang benar. Hanya Lot dan keluarganya hanya 4 jiwa yang boleh dikatakan orang benar. Itulah akhirnya yang membuat Tuhan memusnahkan kota itu, tetapi Ia menyelamatkan Lot sekeluarga. Tidak dijelaskan secara eksplisit di Alkitab apa dosa terbesar kota Sodom dan Gomora. Namun dari kisah tentang dua malaikat yang bertamu ke rumah Lot dapat disimpulkan bahwa dosa Sodom dan Gomora adalah masalah homoseksual. Tuhan mengutus dua orang malaikatNya dalam wujud laki-laki untuk menyelidiki keadaan kota Sodom. Ketika mereka tiba di Sodom, mereka diterima oleh Lot dan diberi tumpangan di rumahnya. “Tetapi sebelum mereka tidur, orang-orang lelaki dari kota Sodom itu, dari yang muda sampai yang tua, bahkan seluruh kota, tidak ada yang terkecuali, datang mengepung rumah itu. Mereka berseru kepada Lot Di manakah orang-orang yang datang kepadamu malam ini? Bawalah mereka keluar kepada kami, supaya kami pakai mereka.” Kejadian 194-5 Kata yang diterjemahkan “pakai” dalam ayat di atas berasal dari kata Ibrani, “yada”, yang berarti hubungan seksual. Kata ini juga dipakai ketika Adam menghampiri Hawa, yang punya makna hubungan seksual Kejadian 41. Jadi para lelaki di kota Sodom memaksa untuk melakukan hubungan seksual dengan dua malaikat laki-laki yang datang ke rumah Lot tetapi gagal. Di sini para malaikat itu tidak butuh lagi bukti dosa-dosa Sodom dan Gomora, mereka sudah mengalaminya sendiri. Kemudian kedua malaikat itu segera melarikan keluarga Lot keluar dari kota Sodom. Lalu Tuhan memusnahkan kota Sodom dan Gomora dengan menurunkan hujan belerang dan api Kejadian 191-28. Dari kata Sodom inilah berasal istilah “sodomi”, yang artinya hubungan seksual sesama laki-laki. Baca 10 Hukuman Tuhan Terbesar Di Alkitab 3. Larangan Tegas Terhadap Persetubuhan Sesama Laki-laki Ayat Alkitab selanjutnya yang menentang homoseks terdapat dalam perintah Tuhan kepada orang Israel, umat pilihanNya. Tuhan memberi perintahNya kepada orang Israel, “Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, karena itu suatu kekejian.” Imamat 1822 Tuhan melarang umatNya melakukan hubungan seksual sesama laki-laki. Para lelaki dilarang untuk berhubungan seksual sebagaimana mereka melakukannya dengan perempuan istri mereka. Ini adalah ayat yang sudah sangat jelas tentang larangan berhubungan seksual dengan sesama jenis, sesama laki-laki. Alasannya adalah karena hal itu suatu kekejian bagi Tuhan. Melakukan hubungan seksual di antara laki-laki adalah kebiasaan bangsa Kanaan, sehingga mereka Tuhan lenyapkan dari negeri mereka dan memberikannya kepada bangsa Israel. Karena itu orang Irael tidak boleh meniru kelakuan bejat bangsa Kanaan itu agar mereka pun jangan dimusnahkanNya dari negeri itu Imamat 1824-30. 4. Hukuman Mati Bagi Para Homoseksual Ayat Alkitab berikutnya yang menentang homoseks khususnya homoseksual, adalah hukumannya yang keras terhadap para pelaku homoseksual. Kepada umat pilihanNya, Israel, Tuhan kembali menegaskan bahwa, ”Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.” Imamat 2013 Sama seperti ayat di atas, ayat ini juga sudah sangat jelas dalam melarang praktek homoseksual. Bahkan hukumannya juga secara jelas disebutkan hukuman mati! Di Perjanjian Lama, tidak semua dosa diganjar dengan hukuman mati, hanya dosa-dosa yang dianggap masuk kategori “dosa berat”. Dosa-dosa yang bisa diganjar dengan hukuman mati di Israel antara lain adalah perzinahan, pemerkosaan, dan homoseksual. Dengan demikian, karena diganjar dengan hukuman mati, maka homoseksual termasuk dosa berat pada zaman Israel. Hukuman mati di sini tentu sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan bagi orang Israel. 5. Peringatan Tentang Semburit Bakti Ayat Alkitab selanjutnya yang menentang homoseks adalah larangan terhadap semburit bakti atau pelacur laki-laki. “Di antara anak-anak perempuan Israel janganlah ada pelacur bakti, dan di antara anak-anak lelaki Israel janganlah ada semburit bakti.” Ulangan 2317 Pelacur bakti atau semburit bakti adalah praktek yang banyak dilakukan oleh para penyembah berhala di Tanah Kanaan. Orang-orang Kanaan penyembah berhala percaya bahwa supaya tanah mereka subur dan menghasilkan panen yang baik, maka manusia perlu menyenangkan hati dewa dan melakukan ibadah kepadanya. Hal ini antara lain dapat dilakukan dengan cara pelacuran bakti atau semburit bakti. Di kuil-kuil dewa-dewa di Kanaan, para wanita atau laki-laki membuka “praktek” terhadap orang-orang yang datang beribadah kepada para dewa. Para pelacur/pemburit ini akan melakukan hubungan seksual dengan mereka sebagai bagian ritual. Dan para pelacur/semburit akan mendapat bayaran atas “jasa” mereka. Yang terjadi dalam ritual ini adalah bahwa laki-laki berhubungan seks dengan sesama laki-laki semburit, dan perempuan berhubungan seks dengan sesama perempuan. Para pelacur/semburit bakti ini merupakan wakil dewa, jika orang-orang yang beribadah melakukan hubungan seksual dengan mereka, maka orang-orang ini seolah-olah telah “berhubungan” dengan dewa-dewa, karena mereka dianggap wakil-wakil para dewa itu. Karena itulah orang Israel dilarang menjadi pelacur/pemburit bakti. Dan uang hasil dari pelacuran/pemburitan bakti tidak boleh dipersembahkan kepada Tuhan Ulangan 2318. Pages 1 2 - RuPaul, maha ratu dari para drag queen, selalu menutup 'RuPaul Drag Race' dengan kalimat, “If you can’t love yourself, how in the hell are you gonna love somebody else?” Jargon itu semacam moto hidup baginya. Semacam mantra untuk menerima diri sendiri, mencintai diri sendiri, agar bisa kuat dan nantinya berguna bagi orang banyak. Maka, selepas melempar jargon itu, RuPaul melanjutkan, “Can I get an amen?”, lalu disambut sorak amin oleh semua orang di studio. RuPaul adalah seniman dan queer. Ia laki-laki gay yang terkenal memopulerkan seni Drag Queen sampai masuk ke ranah industri hiburan arus utama, lewat acara televisi RuPaul Drag Race. Di kalangan LGBTIQ, acara itu sering kali jadi oase sebagai mantra penerimaan diri sendiri dan komunitasnya. Tak pernah sekali pun dalam hidup ini, saya terpikir bahwa kutipan populer dari RuPaul akan keluar dari mulut seorang pendeta, heteroseksual, dan laki-laki cisgender. Selasa siang, 3 September 2019, saya bertemu Pendeta Suarbudaya Rahadian, yang fasih dengan teori queer dan kajian teologi tentang kerjanya di Gereja Komunitas Anugerah GKA Reformed Baptist adalah institusi agama pertama di Indonesia yang mendeklarasikan menerima dan mengafirmasi kelompok rentan LGBTIQ. Artinya, gereja itu tak mempermasalahkan orientasi seksual, ekspresi gender, dan ihwal lain dari kelompok tersebut—yang masih dianggap "dosa" dan "sesat" oleh komunitas agama lain. Mendeklarasikan hal semacam itu tentu bukan tak mengundang respons-respons buruk. Dianggap sesat dan dikucilkan di kelompok Kristen sendiri bukan barang baru buat mereka. “Banyak, kok, anggota yang masih kucing-kucingan dengan keluarganya untuk bisa beribadah,” kata Pendeta Suarbudaya sambil tersenyum. Represi dan persekusi terhadap kelompok LGBTIQ Indonesia makin meningkat beberapa tahun terakhir. Sentimen anti-LGBT bahkan dipakai sejumlah pemerintah daerah untuk menerbitkan regulasi-regulasi diskriminatif yang meningkatkan kepanikan moral tersebut. Dengan dalih agama, Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah, misalnya, membentuk tim ruqyah untuk “menyembuhkan” LGBTIQ yang dianggap penyakit. Pertemuan saya dengan Pendeta Suarbudaya menjadi menarik karena mendengar penerimaan kepada kelompok LGBTIQ dari perspektif agama bisa dibilang masih jadi barang langka dalam konteks hari ini. Ia tak cuma bercerita tentang perdebatan homoseksualitas dalam Kekristenan, tapi juga menjabarkan fenomena “menyembuhkan” LGBTIQ yang sebenarnya bukan cuma salah kaprah tapi Gereja Anda mendeklarasikan afirmasi kepada LGBTIQ? Ceritanya sebetulnya sederhana saja. Gereja kami banyak didatangi orang berlatar belakang LGBTIQ. Orang-orang ini sebenarnya terpental dari komunitas agama karena orientasi seksualnya. Jadi, GKA ini berdiri tahun 2013 sebagai komunitas religius alternatif. Jadi, orang-orang yang datang ke kami 90 persen adalah orang-orang ateis, agnostik, yang dulu pernah beragama tapi meninggalkan keimanan karena dianggap Kristen itu enggak relevan, rasional, enggak manusiawi dan sebagainya dan sebagainya. Di antara pertanyaan-pertanyaan soal agama itu muncul pertanyaan soal apa sih pandangan-pandangan Kristen yang alternatif tentang LGBTIQ? Yang normatif jelas itu ditolak, harus dikonversi ke heteroseksual. Itu secara umumlah. Karena kami banyak didatangi teman-teman LGBT dan didatangi jemaat, kami dibawa pada suatu posisi untuk memikirkan ulang kondisi heteronomativitas kami. Kami juga enggak langsung pada posisi terbuka sebenarnya. Maka, sejak dua tahun, 2015 sampai 2017, kami menggali kajian teologi, sejarah Kekristenan, kajian kitab suci, sampai kajian-kajian teori queer—teori seksualitas terkini. Selama dua tahun itu akhirnya kami menyimpulkan heteronormativitas atau yang normal itu cuma laki-laki hetero-cisgender dan perempuan hetero-cisgender itu bukan satu-satunya pandangan Kristen dalam sejarah tentang gender dan seksualitas. Kristen itu punya perjalanan panjang yang mengungguli bagaimana gender itu dikonstruksi dan bagaimana orientasi seksual dikonstruksi. Buat kami sendiri, ini perjalanan spiritual. Perjalanan teologis juga. Dan juga perjalanan politik. Karena bicara mengafirmasi LGBT ini berarti melawan tatanan masyarakat kita yang hari ini menentang LGBT. Itu semacam pernyataan sikap politik karena kita tidak bisa memisahkan seksualitas dan gender dari konstruksi sosial dan politik. Gender, kan, bentukan sosial, bentukan norma politik. Dan, bila kita menyatakan yang berlawanan dengan yang mapan, kita jadi berlawanan dengan kekuatan yang merasa terganggu—ya anggaplah kelompok yang konservatif, Kristen dan bukan-Kristen. Ataupun kekuatan negara, yang juga, meskipun tidak melarang, tapi tidak memberikan ruang kepada LGBTIQ. Respons-respons apa saja yang didapatkan setelah gereja menerima LGBTIQ? Tentu saja penolakan dari kelompok Kristen sendiri. Bahkan dari komunitas kami sendiri enggak semua orang menerima. Jadi, pada 2015 terjadi semacam dispute, perdebatan yang tidak teratasi sehingga banyak yang meninggalkan komunitas ini karena kami mengafirmasi LGBTIQ. Urutannya sebenarnya begini menolak, menerima dengan syarat—misalnya menerima orang LGBTIQ tapi tidak menerima orientasi seksualnya—dan yang terakhir, mengafirmasi. Kami bukan sekadar menerima tapi juga mengafirmasi, sampai ke tahap ketiga. Bukan sekadar menerima orangnya tapi menolak perilakunya. Karena kami melihat orientasi seksual, ekspresi gender, ekspresi seksual itu satu bagian dengan identitas manusia. Kami tidak bisa menerima orang tapi tidak menerima orientasi seksualnya. Itu sama saja menolak orangnya, sih. Biasanya orang-orang ada di fase kedualah Tidak membenci, menerima tapi dengan syarat. Kami menerima dan mengafirmasi. Itu mungkin yang juga Salah Kaprah Ruqyah 'Menyembuhkan' LGBT yang Nirfaedah Polisi Sebut LGBT Adalah Penyakit Yang Harus Dicegah Sejak Dini Perda Larangan LGBT di Depok Justru Bisa Perparah Penyebaran HIV Bagaimana respons dari kelompok Kristen sendiri? Banyak pernyataan sikap terbuka, baik di sosial media maupun resmi dari lembaga yang mengatakan pandangan gereja GKA sudah menyimpang dari tradisi Kristen dan kitab suci dan sesat. Itu sudah jadi pandangan umum. Sampai hari ini pun saya tidak melihat ada komunitas Kristen lain sebagai institusi yang mengafirmasi posisi kami. Palingan adalah individu-individu saja. Sejak 2015 sampai 2019, belum ada yang satu barisan dengan kami sejauh ini. Apakah bikin ruang gerak GKA lebih terbatas? Lebih terbatas ke komunitas Kristen. Itu sebabnya kami melakukan banyak kegiatan dan aktivitas pelayanan menggandeng komunitas non-Kristen, yang terbuka kepada LGBTIQ. Atau, individu-individu yang terbuka. Individu ini misalnya pendeta atau rohaniwan, hadir membantu kami dalam kapasitas sebagai pribadi. Bukan pemuka yang mewakili institusi. Kajian apa yang akhirnya membuat GKA mengafirmasi? Di Alkitab, ada ayat-ayat yang secara sekilas eksplisit menolak orientasi seksual nonhetero, eksplisit menolak ekspresi gender yang tidak cisgender. Tapi, lagi-lagi, yang harus dipahami, Alkitab itu bukan kitab yang ditulis untuk semua orang di semua masa. Ia ditulis di suatu momentum waktu tertentu, sosial politik tertentu, situasi teologis tertentu. Maka, kami harus tahu konteksnya. Teks-teks Alkitab yang eksplisit menolak LGBTIQ, misalnya di kitab Perjanjian Lama, di kitab Imamat, yang eksplisit bilang Orang yang melakukan hubungan seks, laki-laki dengan laki-laki itu harus dihukum mati, misalnya. Itu alam pikir orang Yahudi yang sedang membangun bangsa, sebagai kumpulan yang sedang membangun bangsa, orientasi itu menambah jumlah manusia. Atau prokreasi. Jadi itu larangan yang mission-nya nation building. Pertanyaannya Kita bukan menjadi seperti orang Yahudi hari ini? Kita orang Indonesia yang hidup di abad 21. Kita tidak sedang membangun sebuah bangsa. Maka, teks itu tidak bisa berlaku apple to apple dengan kita. Ini juga berlaku terhadap teks Alkitab yang lain. Contohnya, perbudakan. Di Alkitab, dari halaman pertama sampai halaman terakhir, enggak ada tuh larangan perbudakan. Bahkan perbudakan di-endorse. Bahkan Injil Baru bilang budak harus tunduk kepada tuannya. Tapi, tidak ada orang Kristen, paling konservatif pun, yang setuju perbudakan hari ini. Kalau cara baca Alkitabnya mau konsisten literalis, harusnya kamu tetap mendukung perbudakan. Atau poligami, misalnya. Sebenarnya kalau mau jujur, enggak ada teks Alkitab yang melarang poligami. Enggak ada. Jadi, kalau ada orang Kristen bilang, di agama kami dilarang; dilarang karena tradisinya melarang, teks kitab sucinya tidak melarang. Tapi, bukan berarti itu dilarang, kita melakukan, kan? Di Perjanjian Lama, parenting itu diatur. Salah satunya paling ngeri adalah anak yang membangkang terhadap orangtua harus dibawa ke Mahkamah Agama dan dihukum mati. Dirajam! Tapi, saya pikir, enggak ada orang Kristen di dunia hari ini yang paling konservatif sekali pun mempratikkan merajam anak yang membangkang terhadap orangtuanya. Enggak ada yang sekonsisten itu. Mereka pasti akan berdalih "Ini zaman dulu." Pertanyaannya Kenapa waktu kamu baca parenting kamu bisa berdalih tapi pas kamu baca LGBTIQ kamu literalis? Padahal itu teks yang sama. Berarti, sebenarnya, ada semacam bingkai saat membaca kitab suci yang tidak disadari, memakai bingkai heteronormativitas. Pertanyaannya bukan apakah kitab suci bilang atau enggak bilang, tapi kamu pakai kacamata apa saat baca kitab suci? Kamu bisa membaca Alkitab secara Kristiani atau secara non-kristiani. Non-kristiani artinya apa? Artinya, membaca Alkitab dalam bingkai kebencian, dalam bingkai permusuhan, eksklusi, dan menyingkirkan yang kamu anggap berbeda dan mengancam. Itu yang mungkin banyak orang yang enggak sadar. Itu yang mungkin kami sadar lebih dulu. Karena kami dulu bagian dari orang yang menentang LGBTIQ. Tapi, dalam perjalanannya, kami sadar ternyata cara baca Alkitab kami salah. Berapa jumlah anggota GKA sekarang? GKA itu menarik. Komunitas yang tidak terlalu menekankan keanggotaan resmi. Secara komunitas, ikut ngumpul itu mungkin bisa seratusan lebih. Tapi, secara anggota resmi, mungkin cuma 50-an orang. Setelah mendengar deklarasi tahun 2015, apakah banyak orang LGBT yang turut jadi anggota GKA? Enggak juga. Jadi perlu dipahami bahkan banyak teman-teman LGBTIQ yang nyinyir. Bagi mereka, justru saya ke gereja itu pengin sembuh. Pengin normal. Jadi gereja janganlah membuat kami tetap hidup dalam dosa. Ada juga LGBT yang masih denial. Beragam juga sih juga Memisahkan Napi LGBT Itu Diskriminatif dan Tak Masuk Akal Pandangan Terhadap LGBT Masih Soal Penyakit Sosial dan Agama Dukung LGBT, Taylor Swift Rilis Video "For You Need To Calm Down" Tanggapan aktivis LGBTIQ?Positif. Walaupun di awalnya enggak semua kelompok aktivis LGBTIQ percaya. Karena memang pengalamannya banyak lembaga agama yang mengesankannya dirinya terbuka tapi setelah masuk ke dalam komunitas itu secara serius, pelan-pelan malah dikonversi. Bahkan di Jakarta, ada banyak gereja yang mengesankan diri terbuka, inklusi, tapi nanti pelan-pelan dipaksa berubah. Kalau GKA enggak. Setelah satu-dua tahun, dia baru bisa benar-benar percaya sama kita. Modus menambah jumlah umat? Yang ada jumlah umat kami makin sedikit setelah deklarasi. Ditinggalkan kelompok heteronormativitas di kelompok kami, ditinggalkan simpatisan kami selama ini maupun kelompok LGBTIQ yang heteronormativis. Pada 2016, anggotanya 60-an orang, 70-an orang. Tapi, penurunannya bisa sampai 30 persen. Berkurang jadi sampai 30 orang. Jadi, kenapa perlu deklarasi? Karena kami menganggap mengkhianati pesan Injil bila kami tidak deklarasikan hal itu. Injil, ide dasarnya, adalah keselamatan untuk seluruh kita. Keselamatan itu apa sih? Itu bahasa teologis untuk bilang keutuhan hidup. Bahwa well being seseorang atau mahkluk hidup apa pun itu diutuhkan sesuai dengan maksud Tuhan menciptakan mereka. Jadi, bagi kelompok LGBTIQ, Tuhan menciptakan mereka sebagai kelompok LGBTIQ, harusnya hidup damai sejahtera bersama orang lain, menerima dirinya sendiri, menjadi orang yang punya harga diri, menjadi orang yang bisa bersyukur karena apa yang sudah Tuhan berikan kepada mereka. Kalau kami menerapkan heteronormativitas, mereka enggak bisa dalam keutuhan. Mereka tetap akan hidup sebagai warga gereja kelas dua. Karena mereka tetap dianggap orang sakit. Dan kami enggak mungkin bisa setara kalau menganggap mereka sakit. Ada ketimpangan di situ. GKA melihat terapi konversi bagaimana? Terapi konversi itu metode sangat merusak. Kami mendapat banyak cerita kesaksian teman-teman yang ikut berbagai ritual eksorsisme, pelepasan, atau konversi yang sifatnya sekuler psikologi pseudosains. Kenapa pseudosains? Karena menurut berbagai jurnal ilmiah dan panduan tata laksana gangguan jiwa, DSM, dan sebagainya, LGBTIQ itu sudah tidak dikategorikan gangguan. Sehingga kalau itu diperlakukan sebagai gangguan itu menyalahi kaidah ilmu pengetahuan. Nah, orang-orang LGBITQ ini akhirnya apa? Depresi, tertekan, mengalami apa yang kita sebut depresi, PTSD, dan sebagainya. Itu problem-problem yang tidak akan terjadi bila mereka bisa menerima dirinya. Tapi, mereka enggak akan bisa menerima dirinya kalau mereka menganggap dirinya salah. Maka, mereka perlu diafirmasi. Mereka tidak salah. Kamu tidak salah. Orientasi seksualmu tidak salah. Yang salah adalah orang yang tidak menerima dirinya, tidak mengasihi dirinya sendiri. Bagaimana dia bisa mengasihi orang lain kalau dia tidak mengasihi dirinya sendiri? Beberapa kawan LGBT—seperti yang Anda bilang “mungkin belum menerima dirinya sendiri’—berpikir ruqyah atau terapi konversi adalah ritual yang menenangkan… Agama itu menjadi faktor yang membentuk cara diri kita melihat diri kita. Apalagi orang yang sudah beragama sejak kecil. Seseorang merasa dirinya jadi OK karena otoritas yang mereka yakini sebagai penentu kebenaran mengatakan mereka OK, dalam hal ini agama. Selama puluhan tahun LGBTIQ hidup, mereka didikte, "Kamu salah, kamu salah, kamu masuk neraka, kamu tidak akan hidup sempurna." Lalu, saat ada terapi konversi, akan memberi makan superego mereka. Superego itu kayak perangkat moral dalam diri seseorang yang jadi alarm kalau kita melakukan hal salah. Misalnya, kita bohong, alarmnya bunyi. Alarm rasa bersalah itu jadi mati. Jadi, mereka tidak akan terganggu untuk sementara waktu. Maka banyak dalam acara-acara seminar terapi konversi kesaksian mantan transgender—sudah operasi ganti kelamin tapi ingin balik lagi—dan itu digembar-gemborkan, dipublikasikan dalam seminar-seminar berbiaya tinggi yang akhirnya bikin kepanikan moral di masyarakat. Orangtua-orangtua melihat anaknya punya tendensi homoseksual akan ikut, merasa ada harapan, dan akan membayarnya dengan sangat mahal. Lebih-lebih, yang bersangkutan atau anaknya sendiri pengin ikut. Kalau sudah begitu, kami enggak bisa melarang. Maka, kami seringkali bilang, consider-lah. Consider kembali. Apakah kamu yakin konversi ini tidak akan melukai kamu? Apakah kamu bisa hidup dengan nyaman? Atau kamu sudah membohongi dirimu sendiri? Tapi, kami justru punya sudut pandang lain. Pengalaman sejarah membuktikan tidak ada satu pun lembaga konversi yang sukses. Contoh yang paling besar di Amerika, Eksodus International, yang didirikan kalau enggak salah tahun 60-an sampai tahun 2012 tutup. Presiden Eksodus Internasional bikin pengumuman 'metode yang kami pakai itu lebih sering mencederai ketimbang menyembuhkan.' Kenapa mengulangi kegagalan dari lembaga yang sangat besar dan mengalami kegagalan yang besar? Dari hari ke hari, banyak orang dari posisi seperti kami dulu, heteronormatif, beralih menjadi orang-orang yang mengafirmasi, salah satunya karena pengalaman juga. Di samping landasan teologisnya bermasalah, landasan ilmiahnya bermasalah. Ada begitu banyak problem di luar—kalau kita singkirkan konsep-konsep teoritik, secara empirik saja itu enggak berhasil. Jadi itu suatu penanda. Kalau dalam pengalaman empiris saja enggak berhasil, ada yang salah dalam metode. Harusnya ada pertanyaan itu. Nah, ini yang enggak dilakukan. Aku enggak bisa membuktikan tapi aku mencurigai ada semacam upaya monetisasi, mencari keuntungan dari kepanikan ini. Supaya orang yang panik ini keluar uang banyak untuk itu. Proses terapi konversi biasanya bagaimana? Setahu saya, yang umum biasanya, kalau dalam tradisi Protestan yang Karismatik, kira-kira mengasumsikan segala bentuk penyimpangan natural atau kodrati penyebabnya dua kuasa iblis atau setan dan karena dosa. Dosa dalam Kristen bukan cuma pelanggaran moral tapi semacam defect, semacam pencacatan yang diwariskan dari Adam sampai semua umat manusia. Tapi orang yang ikut Yesus itu warisan dosanya akan dihapus, disucikan. Dia akan lahir baru. Maka, ada istilah Lahir Baru. Nah, mereka menganggap homoseksualitas itu defect yang diturunkan dari Adam dan Hawa, tertinggal dan kebawa di dalam gen manusia, dalam jiwa manusia, yang bisa dibersihkan melalui upacara-upacara—kalau karena setan, ya eksorsisme atau bahasa Injilnya pelepasan dari kuasa jahat. Semacam bentuk disiplin Kristen, reorientasi kehidupan Kristen. Dalam Kristen itu ada istilah Pemuridan atau dalam istilah biasa itu "pengkaderan". Orang dibentuk cara berpikirnya, cara bersikap, cara berkata-katanya sesuai etika dan norma-norma Kristen. Lewat pengajian Alkitab, lewat modifikasi perilaku. Ini lebih mirip dalam psikologi CBT—Cognitive Behaviour Therapy. Dulu, zaman orang belum mengerti masalah kebutuhan khusus, anak-anak dianggap nakal dididik seperti mendidik binatang. Kalau binatang di sirkus cara didiknya, kalau nurut dikasih makan, kalau enggak nurut dipukul terus. Itu punish dan reward. Sampai akhirnya terbentuk habit yang baru. Kurang lebih, terapi konversi itu bentuknya begitu. Begitu orang-orang LGBTIQ menunjukkan perilaku-perilaku non-heteroseksual, dikasih punishment tertentu. Entah itu rasa bersalah, semacam pendisiplinan-pendisiplinan pada tubuh. Kalau orang itu bisa berperforma perilaku yang dianggap sesuai, akan dapat reward. Kalau dilakukan berulang-ulang, selama bertahun-tahun, orang LGBTIQ itu akan berubah juga, sih. Tapi, pertanyaannya, akan sampai kapan bertahan? Seberapa permanen perubahan itu? Dan seberapa dalam bekas trauma kepada orang itu… Iya. Dan kalaupun berubah, bagaimana dampak harm-nya? Apakah itu harmful kepada orang itu? Itu juga harus jadi pertanyaan. Eksorsisme itu berarti pembacaan ayat-ayat?Dibacakan ayat-ayat, didoakan. Dan biasanya semacam katarsis. Orang yang didoakan menangis, menjerit-jerit. Cuma secara psikologi itu bisa dijelaskan secara ilmiah. Itu fenomena katarsis. Bayangkan, orang yang distigma selama berpuluh-puluh tahun, saat ini dikonfrontir dengan masalahnya. Waktu dikonversikan, dia enggak bisa lari. Dia disudutkan. Terus di-summoned terus. Tentu orang ini enggak punya self-defense mechanism. Akhirnya, yang keluar katarsis seperti menjerit-jerit. Inilah yang biasanya disebut "jinnya keluar." Padahal, enggak ada hubungannya dengan jin. Siapa pun yang dipojokkan dengan cara seperti itu, kalau enggak kuat, ya, akan katarsis. Kayak diospek aja, kan, ada yang orang "kesurupan". Itu bukan kesurupan. Karena ditekan terus, dia enggak punya ketahanan mental, supaya dia tetap waras akhirnya dia harus katarsis. Katarsisnya nangis, pingsan, jerit-jerit, kayak kehilangan kesadaran, suaranya berubah. Itu hal-hal yang sebenarnya ilmiah. Bisa dijelaskan. Cuma, lagi-lagi, pengetahuan umum tentang struktur mental manusia, kejiwaan manusia, enggak banyak diketahui masyarakat. Jadi, semacam validasi Benar, kan, kalau dia enggak dikuasai jin atau roh jahat, dia harusnya enggak kepanasan dan menjerit. Menariknya, biasanya eksorsis-eksorsis ini berhasil atau berdampak terhadap orang-orang yang sudah religius sebelumnya. Kalau itu dipraktikkan terhadap yang tidak religius, yang ateis misalnya, itu enggak akan berhasil. Itu cuma menarik keluar apa yang sudah ada di dalam dirinya sendiri. Kalau yang religius berdampak, dan itu yang dibesar-besarkan. Direkam video. Ada acara TV. Coba secara random diipilih orang yang agamanya beda, atau yang bepuluh-puluh tahun ateis, pasti enggak ada efeknya. Yang dibicarakan GKA ini sebetulnya angin segar, apalagi buat mengangkat martabat manusia.. Betul. Buat human rights. Tapi, kami enggak bicara human rights-nya di depan. Biarlah pembelaan-pembelaan human rights-nya tafsiran orang saja. Kami lembaga agama. Kami akan bilang kami mau me-reclaim kembali tafsir yang sudah direbut kelompok homofobik bahwa kami melakukan ini bukan karena human rights. Kami melakukan ini, first, karena kami Kristen. Yang kedua, baru karena human rights. Kenapa kami pakai jargon itu? Karena biasanya orang Kristen itu mikir human rights itu sekuler. 'Kita Kristen ini orang beragama, harusnya landasan itu kitab suci dan tradisi iman. Kalau human rights itu narasi non-agamawi.' Kami justru ingin bilang Afirmasi kami kepada LGBTIQ justru dimulai dari jantung keyakinan agama kami. Human rights itu justru jadi lapisan keduanya. Maka, kami menyebut diri faith community, bukan human rights community. Artinya, iman inilah yang jadi reaktor dari semua ini. Sumber dayanya dari Laporan ini didukung oleh program Round Earth Media dari Internasional Women’s Media Foundation. Baca juga artikel terkait LGBT atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam - Indepth Reporter Aulia AdamPenulis Aulia AdamEditor Mawa Kresna Bagi yang belum tahu apa itu LGBT, maka berikut ini adalah kepanjangannya, LGBT = Lesbian Gay Biseksual dan Transgender. Saat ini, sedang ramai diperbincangkan di media sehubungan dengan support dana dari UNDP untuk kaum LGBT di Indonesia. LGBT nampaknya sekarang ini mulai dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan dihalalkan oleh negara. Akan tetapi, Alkitab sudah memperingatkan dengan keras tentang hubungan sesama jenis. Berikut ini adalah ayat-ayat yang berisi larangan Tuhan untuk hubungan sesama jenis 1. Imamat 1822 “Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, karena itu suatu kekejian.” 2. Imamat 2013 “Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.” 3. Roma 126-27 “Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.” 4. Yudas 17 “sama seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang.” Masih banyak ayat-ayat lain yang berisi teguran TUHAN terhadap dosa percabulan dan perzinahan, baik sesama jenis maupun yang sejenis serta segala hubungan yang tidak wajar, seperti dengan binatang. Hubungan seksual adalah pemberian dan anugerah TUHAN dalam pernikahan antara laki-laki dan perempuan. Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu, LGBT merupakan sikap dan tindakan yang berlawanan dengan kehendak firman Tuhan. Marilah turuti apa kata TUHAN. Tuhanlah yang berdaulat atas manusia, bukan sebaliknya sehingga Hak asasi manusia menjadi kebablasan. Hak asasi manusia haruslah berada dalam koridor firman-Nya. Bagi saudara yang telah jatuh dalam dosa ini, maka bertobatlah. Tuhan membukakan pintu kemurahan-Nya buat saudara. Janganlah keraskan hatimu dan datanglah kepada Tuhan, meminta pengampunan-Nya dan tinggalkan dosa itu serta hiduplah dalam firman Tuhan. Tuhan akan mengampuni dan menolong saudara. Hubungi para hamba Tuhan yang terdekat di kota tempat tinggal anda dan carilah komunitas yang membangun iman dan saling menguatkan. Tuhan Yesus memberkati. Amin.